Ada yang Patah, tapi Bukan Hati

Aku termenung di depan jendela salah satu ruang rawat inap di rumah sakit. Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah ditemani oleh air mata yang hampir setiap waktu membasahi pipiku. Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri,

“Kenapa hal ini terjadi padaku?”

“Kenapa harus aku?”

Kualihkan pandanganku dari pemandangan di luar jendela menuju tempat tidur tempat dia berada. Ada seseorang yang sangat berharga dalam hidupku di sana sedang tidak baik-baik saja. Aku mencoba menahan teman setiaku saat ini, air mata, untuk tidak membasahi pipiku lagi. 

Tetapi tidak bisa.

Lalu aku pun menyadari dan tersenyum berlinangan air mata, bahwa saat ini, hanya air matalah yang menjadi teman setiaku.

***

Sudah hampir dua minggu yang lalu, Bunda meninggalkanku dan Ayah di dunia ini.

Aku tau betul perasaan Ayah saat itu. 

Patah. 

Hatinya patah. 

Ayah pernah bercerita kepadaku bahwa Ibu adalah cinta pertamanya. Ayah mencintai Ibu dalam diamnya dan selalu mendoakannya. 

Hingga akhirnya, mereka dipertemukan dengan takdir yang indah.

Lalu aku?

Saat itu, tentu tangisku pecah. Aku kehilangan seseorang yang penuh dengan kasih sayang. Aku kehilangan sesosok manusia yang telah banyak memberikan pengaruh di dalam kehidupanku. Sesosok malaikat yang doanya bisa menembus langit-langit-Nya.

Saat ini, ketika kesedihanku belum kunjung membaik, Ayah mengalami kecelakaan yang meyebabkan kaki kanannya patah dan harus dirawat di rumah sakit.

Lalu, di dalam diriku terjadilah penumpukan kesedihan yang tak kunjung usai.  

Tetapi di dunia ini, kita seringkali lupa bahwa pertemuan itulah yang menyebabkan adanya perpisahan. 

***

Bagaimana rasanya jika kalian ditinggal oleh orang yang kalian sayangi?

Bagaimana rasanya jika orang terdekat yang kalian sayangi tertimpa musibah yang berat?

Kedua hal tersebut menimpaku secara beruntun. Diriku sudah tak lagi berdaya terlebih lagi hatiku yang menanggung banyak kekecewaan. 

Hari ini, hari kelimaku di rumah sakit menemani Ayah. Kondisi Ayah lumayan membaik. Ayah sudah bisa tersenyum, mungkin rasa sakitnya sudah lumayan pulih. Sejak kemarin, Ayah mulai mengajakku mengobrol ringan, setidaknya teman mengobrol membuatku tidak larut terus-menerus dalam kesedihan.

Hari-hariku di rumah sakit bersamanya, membuatku menjadi lebih banyak menerima pelajaran-pelajaran hidup. Setiap harinya, Ayah selalu bercerita ringan dan menyelipkan hikmah di dalamnya, tak jarang juga Ayah melontarkan lelucon-leluconnya demi membuat anak semata wayangnya tersenyum kembali. 

Kadang, ketika Ayah melontarkan leluconnya, aku bukannya tertawa tetapi malah menangis. Aku terharu sekaligus bingung, kenapa Ayah dalam keadaannya yang sedang tidak baik-baik saja ini, bisa terlihat baik-baik saja? 

Ayah tersenyum melihatku menangis, “Lah kok malah nangis?” 

Aku berusaha mengendalikan tangisanku yang sulit untuk dikendalikan ini. 

Sambil mengusap air mata, aku bertanya kepada Ayah, “Ayah, kenapa sih Ayah bisa ngelawak padahal lagi keadaan begini?”

Ayah kembali tersenyum mendengar pertanyaanku, “Ayah bersyukur dengan semua ini Nak”.

“Lah kok kena musibah malah bersyukur yah?” tanyaku penasaran.

“Ayah bersyukur karena di luar sana masih banyak orang yang keadaannya tidak lebih baik dari Ayah. Saat ini, Ayah masih bisa menggunakan dua tangan Ayah, masih bisa sholat dalam keadaan duduk, tidak berbaring, dan masih bisa ngobrol sama anak Ayah ini,” ucapnya sambil mengelus-elus kepalaku. 

“Setelah hati ayah patah karena ditinggal Bunda, kaki Ayah yang patah, Nak. Ini yang dinamakan ujian kehidupan. Semua manusia tidak pernah terhindar dari ujian kehidupan ini. Ayah banyak belajar dari kejadian ini, setelah hati dan kaki Ayah patah, semangat Ayah nggak boleh patah juga!” ujar Ayah penuh semangat.

“Setidaknya, cara Ayah bersyukur dengan kejadian ini yaitu dengan selalu optimis dan semangat dalam menjalani hidup ini. Kamu juga harus tetap semangat ya. Anak Ayah harus tangguh. Oke?” Ayah mengacungkan jari kelingkingnya kepadaku.

Akupun tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingku ke jari kelingking Ayah tanda berjanji. 

---
Penulis: Alifia Khoirunnisa

Comments

  1. TerharušŸ˜‚ bagus sekali kakak Alifia khoirunnisa♥️

    ReplyDelete
  2. "Kenapa harus aku?”

    Pertanyaan ini juga sempat terlintas di benak w. Dan w dapet jawaban, karena w yang paling kuat di dunia ini dengan permasalahan ini, makanya dikasih ke w. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts